Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Bokep Tobrut Winda, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri. Tapi masa bodohlah.Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. “Idih jahat banget!”. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.“Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!” kata Pak Hr penuh kepuasan. Ibu mana?”, tanyaku berbasa-basi. Aku bangkit dan berlari menghindar. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. “Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya.




















