Matahari belum bersinar lama. Aku mengatur nafasku satu-satu, sedikit terengah merasakan bibir-bibir itu melumat-lumat sekujur batang kejantananku yang menjadi keras dan semakin mengeras. Bokep India kring!” Suara telepon kuno itu seketika membuyarkan pikiranku. Ia lalu duduk di dekatku dan menyapaku. Aku bangkit dari tempat tidur. “Sorry ya, Roy..!” katanya merajuk. Kepalaku terasa sedikit pening. Kurasakan udara menjadi lebih sejuk. Aku hanya menarik napas dalam-dalam. Perlahan-lahan aku berjalan menuju kamar mandi. “Hei, Roy.. Aku bangkit dari tempat tidur. Sejenak kuperhatikan bayanganku yang terpantul jelas pada cermin lebar yang terletak persis di hadapanku. Ia menceritakan hari-harinya di kantor siang itu, mengutarakan rencananya nanti malam, dan menceritakan aktivitas tambahan yang dilakukannya tadi pagi. kring..!” Suara telepon itu kembali mengejutkanku. Wanita itu memang betul-betul liar, pikirku. Aku hanya menarik napas dalam-dalam.




















