Dia membayar kamar tersebut.“Kok hotel pada penuh ya?” tanya dia saat menekan pin kartu debitnya di mesin EDC.“Lagi ada munas partai pak, jadi banyak tamu yang datang.”“Ohh… Pantesan banyak bendera partai di pinggir jalan.”“Ini kuncinya,” kata si resepsionis. Tentu aku hanya bisa mendesah diperlakukan seperti itu.Dia cabut keluar jarinya, bangkit berdiri, lalu mengarahkan penisnya ke lubangku. Bokep Tawanya terdengar renyah dan puas.“Kenapa ketawa?” tanyaku ketus.“Jangan kaku gitu ah,” dia memberi saran. ajjj…ja..”Dia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit hotel sambil terus memompaku. Titik. Dipegang erat seperti tak ingin melepaskan.Seorang pelayan menghampiri meja kami dan bertanya “maaf pak boleh cangkir kosongnya saya angkat?”“Silakan” jawab pria di hadapanku.




















