Rokok sudah habis aku ambilkan tas kecilku yang di dalamnya ada alat perekam suara, langsung kuhidupkan. Kami langsung menuju ke arah Simalingkar salah satu café and bar dekat Hotel Royal Sumatera. Bokeb Padahal menurutnya banyak cowok yang jahil menyentuh tangannya, satupun belum pernah ia rasakan detak jantung seperti ini. Sesampainya dicafe Ramah langsung didekati seorang laki-laki separuh baya yang notabenya om-om. “Hai… lagi ngapain mbak ? Aku jawab dengan nada yang ramah serta menebar senyuman yang memikat hati Ramah agar dianya dapat yakin dan percaya. Ramah bertanya lagi ” bang ayo donk…! Kalau kuceritakan kehidupan aku mungkin satu malam ini belum selesai. Saat tubuh Roni petting bawah menekan milikku terasa nyeri dan sakit. Kamipun sampai dalam tujuan, aku kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicafé tersebut.




















