Lha wongMbak Wien menutupi wajahnya begitu. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satuangkot dengannya. Film Porno Tapi eh.., seorang penumpang pakaikaos oblong, mati aku. diamendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.Yang.., cepatcepat berkemas. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Ia kerja di sana? Jam berapa aku berangkat. Aku mengurungkan niatku. Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Menantang dengan mata genit sambilmendekati pintu salon. Makin lama suarasepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletakpelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara ituhilang.Aku hanya mendengus. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi,setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuiltempat duduk.Terima kasih, ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkanlagi, sehingga tidak perlu curicuri pandang meliriklehernya, dadanya yang




















