Mbah Suliyem berusaha mengahkiri perdebatan kami di jalan.Kali ini aku sudah pasrah dan kurasa memang tidak ada yang perlu diperdebatkan, apalagi setelah kulihat alroji ‘swiss army-ku’ sudah menunjukkan jam sembilan malam. Aku menelan senyum melihatnya dan seketika itulah kebejatanku muncul, aku segera menepikan kendaraanku yang kebetulan juga saat itu kami sudah berada si kawasan hutan Bunder yang terkenal angker. Bokep Montok jika dipikir dengan itung-itungan mungkin bisa dibilang konyol.Bagaimana tidak, arah rumah si nenek selain jauh juga bertolak belakang dengan arah rumahku, belum lagi soal waktu, solar dan lain sebagainya. ya sudah ayo kita jalan…” aku menutup perdebatan dengan tetap kolorku masih di lutut.“Kita jalan ya mbah” aku menarik tangan mbah Suliyem yang terasa kaku dan berat karena ada penolakan darinya, meski tenagaku lebih kuat pada ahkirnya …. Yang pasti setelah aku mulai menjalankan kembali “L-sapek” pikep kesayanganku , mbah




















