Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan badan dan aqupun tak canggung lagi ketika Pak Martin menyabuni kemaluanqu yg memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yg mungkin luka dari selaput daraqu yg robek. Bokeb Aqu segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yg tergeletak di atas tempat tidurnya.Begitu tiba di dalam kamar, Pak Martin bertanya lagi, “Betul kamu tak malu?”, aqu hanya menggelengkan kepala saja. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Emm.., Majalah jorok”.Kemudian dia tertawa, “Oh, yg itu, toh. Agak sakit Pak. Di dalam hati aqu tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Martin.Di suatu hari Minggu aqu berniat pergi ke rumah Pak Martin dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah kawan dan pulang agak sore dgn alasan mau mengerjakan PR bersama-sama.




















