Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Bokep Viral Terbaru Dingin. Aku tidak tahan. Aku tidak berani menatap wajahnya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ah segar. Bodoh amat. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Lalu dikocok-kocok sebentar. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Lalu ia memijat lutut. Tetapi, aku harus berani. Ayo..!Aku masih diam saja. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Bicara apa? Ia tersenyum.




















