Hap. Aq masih termangu. Bokeb Lalu asyik membuka tabloid. Kami seperti tdk ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.Iin menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Atau mau gunting? Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Wajahku merah padam. Untung ada tissue yg tercecer, sehingga ada alasan buat Iin.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yg menunggu telepon. Yes.., akhirnya. Untung ada tissue yg tercecer, sehingga ada alasan buat Iin.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yg menunggu telepon. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yg masih menempel di tubuhku. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Aq duduk di belakang, tempat favorit. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.




















